Sabtu, 11 Juni 2022

 Demonstrasi Kontekstual

Pengampilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran



Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kita seringkali dihadapkan dalam situasi di mana berda pada posisi dipersimpangan dan diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain? Beberapa hal mungkin menjadi pemikiran di dalam benak kita yaitu

-          Bagaimana pengalaman kita dalam menghadapi situasi seperti ini?

-          Pemikiran-pemikiran seperti apa yang melandasi pengambilan keputusan kita?

Kemudian, setelah mengambil keputusan tersebut, pernahkah kita menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri kita sendiri apakah keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam diri kita, atau timbul pemikiran mengganjal dalam diri kita seperti, ‘

Apakah ini sesuai peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti ini?’

 

A. Perbedaan Bujukan Moral dan Dilema Etika

Dalam pengambilan keputusan ada dua hal yang terjadi yaitu bujukan moral dan dilema etika. Nah apakah perbedaan keduanya itu?

Bujukan moral atau benar vs salah adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan. 

Dilema etika atau benar vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.

 

B. Empat Paradigma dalam Pengambilan Keputusan

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. 

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini.

1.       Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.       Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.       Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.       Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

 

C. Tiga Prinsip dalam Pengambilan Keputusan

Dalam pengambilan sebuah keputusan ada tiga prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut yaitu. 

1.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.       Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

D. Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

1.       Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2.       Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.       Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.       Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.

5.       Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

6.       Melakukan Prinsip Resolusi.

7.       Investigasi Opsi Trilema.

8.       Buat Keputusan.

9.       Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. 

Setelah memahami terkait dengan materi modul 3.1 di atas, berikut saya akan membagikan tugas demonstrasi kontekstual. Adapun panduan pertanyaannya sebagai berikut.

Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Sebagai seorang guru Saya merasakan kebutuhan begitu besar terhadap materi -- materi yang menjadi muatan kurikulum program guru penggerak ini. Artinya materi -- materi ini sangat sesuai dengan kebutuhan saya sebagai seorang pendidik dan sekaligus manajerial sumber daya manusia.

Dasar filosofi pendidikan yang merupakan buah pemikiran dari Ki Hajar Dewantara akan menguatkan saya dalam pondasi untuk menjadi guru yang baik bagi murid -- murid saya. 

Tentunya di dalam penerapan proses pembelajaran saya harus mampu menjadi Pamong bagi murid -- murid saya. Menjalankan 3 semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, & Tut Wuri Handayani. 

Saya juga harus melangkah focus pada tujuan utama yaitu melahirkan pelajar yang berkarakter Pancasila yang Beriman dan Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mandiri, Kreatif, Bernalar Kritis, Berkebhinekaan Global, & Berjiwa Gotong Royong. 

Tentunya filosofi ini akan saya tanamkan mulai dari diri sendiri. Setelah kelihatan hasilnya saya akan menularkan pengaruh positif kepada rekan -- rekan sejawat yang memiliki jiwa reflektif. Dan pada akhirnya semua akan mengerti dan paham tentang filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara.

Memahami nilai -- nilai dan peran penting kita baik kepada murid -- murid terlebih kepada seluruh rekan sejawat itu sangat penting diketahui. 

Karena jika kita sudah memahami itu semua, maka akan lahir semangat yang mendasar dan tak mudah untuk padam untuk tergerak, bergerak, dan menggerakkan komunitas belajar yang memerdekakan murid dalam belajar.

Memahami filosofi dan mengerti nilai dan peran sebagai guru penggerak, bekal selanjutnya harus memiliki kesadaran penuh untuk bergerak dan sekaligus mampu mengontrol sosial dan emosi, dan mampu membantu penyelesaian masalah baik itu dari murid ataupun dari rekan sejawat, sehingga semua pihak ikut bergerak bersama dengan senang hati. Dengan seperti itu, hal -- hal positif pasti akan terlahirkan sesuai dengan harapan bersama.

Setelah menjalani semua proses, dan aksi nyata. Sudah tentu pasti akan dihadapkan dengan masalah -- masalah. CGP tidak akan pernah diajarkan untuk lari dari masalah. 

Namun, mereka akan dibekali dengan keterampilan dalam menyelasaikan masalah. Untuk mampu menyelesaikan masalah, CGP harus memiliki kepiawaian dalam menentukan jenis masalah yang dihadapi. Apakah itu sebuah Dilema Etika atau Bujukan Moral. 

Langkah -- langkah dalam kebijakan mengambil sebuah keputusan akan menjadi bekal yang sangat berarti bagi CGP untuk melangkah menjadi guru yang tepat bagi murid -- muridnya.

Belajar dan berbagi itulah kata-kata yang selalu saya jadikan pegangan didalam setiap mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi yang saya ikuti. Artinya selain belajar untuk peningkatan kompetensi diri sendiri, saya juga melakukan sesi sharing atau berbagi apa yang sudah saya dapatkan baik kepada rekan-rekan guru di sekolah dan juga rekan-rekan guru di seluruh nusantara. Karena bagi saya dengan berbagi maka ilmu yang akan kita miliki akan semakin berkembang dan bertambah. Selain itu, kita juga dapat menginspirasi rekan-rekan yang lain untuk ikut melakukan apa yang telah kita lakukan. 

1.       Adapun cara yang akan saya lakukan dalam mentransfer dan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan dalam program guru penggerak ini yaitu: 

2.       Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak yang telah didapatkan melalui komunitas praktisi seperti MGMP Matematika di sekolah atau dalam lingkup yang lebih luas seperti sosialisasi lintas jurusan dalam satu sekolahan. 

3.       Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak melalui tulisan-tulisan di google site yang sudah saya buat. 

4.       Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak melalui sosial media baik berupa tulisan blog pribadi maupun video yang diupload ke channel youtube, IG, facebook dll.

5.       Membentuk Komunitas Praktisi Baik Guru maupun siswa sebagai sarana memberikan informasi dan materi tentang Guru Penggerak dan Kurikulum Merdeka Belajar

Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di sekolah dalam rangka mewujudkan merdeka belajar dengan pembelajaran yang berpihak kepada murid, tentunya suatu waktu kita akan dihadapkan pada situasi dilema untuk mengambil sebuah keputusan yang terbaik dan menguntungkan semua pihak meskipun terkadang belum semuanya merasa puas namun sudah dianggap sebagai WIN WIN SOLUSION (PENYELESAIAN TERBAIK)

Adapun langkah-langkah  yang akan saya lakukan yaitu: 

1.       Memastikan bahwa dalam mengambil sebuah keputusan sudah sesuai dan sejalan dengan visi dan misi yang telah kita susun dan sepakati bersama. 

2.       Melakukan analisa terhadap situasi atau kasus yang saya hadapi disesuaikan dengan paradigma pengambilan keputusan. 

3.       Memilih salah satu atau mungkin ketiganya dari tiga prinsip pengambilan keputusan yang ada. 

4.       Melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.  

 

Untuk itu saya :

Pertama saya harus melatih mengembangkan keterampilan diri dalam memahami setiap masalah yang saya hadapi. Apakah itu sebuah dilemma etika atau bujukan moral. Supaya saya tepat sasaran dalam menentukan sebuah keputusan.

 

Kedua saya harus menambah pengetahuan melalui pelatihan pelatihan baik ofline maupun online serta berbagi pengalaman dan pengetahun ini dengan rekan -- rekan sejawat, yang sudah mendapatkan persetujuan dari pimpinan tentunya.

 

Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Sejak awal modul ini disampaikan, dan mengikuti pengantarnya saya sudah sangat terpesona dengan metode dalam mengenal sebuah masalah dan langkah untuk mengambil keputusan. Sejak saat itu saya terus mendalaminya dan langsung mempraktikkan dalam setiap masalah -- masalah yang saya hadapi baik di lingkungan sekolah, maupun dalam kehidupan sehari -- hari. Langkah-langkah pengambilan keputusan ini akan saya terapkan ketika saya dihadapkan pada situasi dilema etika yang memerlukan pengambilan keputusan terbaik yang dapat menguntungkan semua pihak. Jika hari ini mengalami dilema etika maka hari ini admin akan menerapkan langkah-langkah tersebut, jika besok mengalami dilema etika maka besok akan diterapkan langkah-langkah tersebut, dan seterusnya

Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Dalam mengambil sebuah keputusan tidak hanya kita lakukan sendiri saja tentu perlu masukan-masukan dari rekan yang bisa kita ajak berdiskusi dan berbagi sehingga kita mengetahui apakah keputusan yang telah kita ambil ini sudah tepat dan efektif atau belum

Dalam hal ini saya akan melibatkan beberapa pihak untuk berdiskusi

a.       Kepala Sekolah Bp. Sony Sarwo Prabowo, s.Pd

Peran Kepala Sekolah dalam hal ini lebih kepada izin prinsip pada setiap program dan agenda CGP. Karena sejatinya semua tanggungjawab ada pada pimpinan Satuan Pendidikan.

b.      Sesama CGP

Kebetulan dalam satu Satuan Pendidikan saya tidak sendirian dalam mengikuti program guru penggerak ini. Sehingga lebih memudahkan untuk bergerak bersama dalam setiap program.

c.       Stake Holder atau Warga Sekolah

Selain itu Dalam mengambil sebuah keputusan tidak hanya kita lakukan sendiri saja tentu perlu masukan-masukan dari rekan-rekan sejawat di sekolah, orang tua siswa, siswa, komite sekolah, pengawas sekolah atau bisa juga keluarga.

d.      Fasilitator Ibu Sukaesih, S.Pd

Fasilitator adalah orang pertama yang memberikan pengaruh aktif dalam mentransfer pengetahuan tentang semua teori dan aplikasi pengetahuan dalam setiap modul di program ini.

e.       Pengajar Praktik Moch Alex Farhan, S.Pd, M.Si

Pengajar praktik tidak kalah penting dengan fasilitator. Meskipun pendampingan hanya beberapa kali dan saat pertemuan lokakarya, namun jarak yang tidak begitu jauh dari segi geografis akan lebih memudahkan dalam pendampingan dan pembinaan setiap pengetahuan dan keterampilan.

 

 

Kamis, 09 Juni 2022

 

 

AKSI NYATA

MODUL 3.2.a.10. PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 

Oleh : WIWIED SUPARYADI, S.Pd

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK


 


  

A.Latar Belakang

Seorang pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan  7 aset atau sumber daya di sekolah yang terdiri atas aset manusia, aset sosial, aset fisik, aset finansial, aset politik, aset lingkungan, aset agama dan budaya.  Karena aset atau sumber daya adalah hal paling penting  penunjang kegiatan dan kemajuan sekolah. Oleh sebab  itu saya mencoba bersama komunitas sekolah memetakan dan mengelola aset yang ada  dengan menggunakan pendekatan Inkuiri apresiatif model BAGJA yakni berpedoman pada prinsip Aset Based Thinking atau berpikir berbasis aset. Dengan pendekatan ini diharapkan kita mampu memaksimalkan manfaat aset bagi ekosistem sekolah guna  mendukung pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Lingkungan sekolah serta sarana pendukung yang memadai  adalah ruang atau tempat  yang sangat berharga bagi penghuninya khususnya bagi murid dan guru. Wellbeing  murid akan terbentuk manakala proses pembelajaran murid sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Saya bersama komunitas sekolah berupaya melakukan inisiasi perubahan berpedoman pada prinsip bahwa  murid adalah  agen perubahan, mengoptimalkan pemanfaatan aset yang ada guna menumbuhkan kesadaran diri murid menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyenangkan, bermakna menuju profil pelajar Pancasila.

B.Tujuan

Pemetaan dan pengelolaan aset atau sumber daya ini bertujuan  untuk meningkatkan kwalitas pembelajaran Matematika, meningkatkan kebahagiaan, kesenangan, serta kenyamanan murid dan  "Well-being" dalam mewujudkan kepemimpinan yang berpihak kepada murid menuju profil pelajar Pancasila.

 

C.Tolak Ukur

Tolok ukur aksi nyata ini adalah terwujudnya pembelajaran yang berkualitas dan bermakna,  adanya susana belajar murid  yang nyaman dan menyenangkan sehingga kondisi kelas menjadi aktif, kreatif, inovatif, dan terbentuklah kepemimpinan melalui kesadaran diri murid.

  

D.Dukungan Yang dibutuhkan

Aksi nyata ini diperlukan adanya kolaborasi dan gotong royong semua aset sekolah khususnya aset manusia yaitu Kepala sekolah, teman sejawat, murid,tenaga kepegawaian, komite sekolah,orang tua dan murid. Dukungan lainnya adalah berupa sarana prasarana, lingkungan dan komunitas social yang ada di sekolah.

 

E. Linimasa Tindakan Yang akan Dilakukan

Dalam melaksanakan aksi nyata ini saya menggunakan prosedur BAGJA antara lain :

TAHAPAN

Pertanyaan

Tindakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

·      B-uat pertanyaan (Define)

·      Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

·      Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

  • Apa yang bisa dilakukan agar pembelajaran menjadi nyaman, menyenangkan dan bermakna?
  • Bagaimana cara mewujudkannya?
  • Menggali data dari murid tentang suasana pembelajaran  nyaman, menyenangkan dan bermakna serta metode pembelajaran yang di minati oleh  murid
  • Menyusun angket pembelajaran yang menyenangkan
  • Bersama dengan murid menyusun keyakinan kelas/ kesepakatam belajar
  • Mencatat potensi potensi apa saja yang bisa dimaksimalkan guna mewujudkan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan bermakna

A-mbil pelajaran (Discover)

·   Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

·   Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

  •  Pengalaman apa saja yang paling menyenangkan  dan berkesan selama mengikuti pembelajaran?
  • Mengidentifikasi pengalaman apa yang menyenangkan dan bermakna dalam proses pembelajaran (apakah pembelajaran yang bervariatif tempat dan metode pembelajarannya, beragam media pembelajarannya, ataukah gaya belajarnya)
  • Mendata dan mengelompokkan pengalaman belajar  yang ditulis oleh murid
  • Melakukan observasi
  • Membaca referensi mengenai pembelajaran yang menyenangkan
  • Melakukan identifikasi asset yang dimiliki oleh sekolah

G-ali mimpi (Dream)

-           Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

-           Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

  • Bagaimana perasaan murid jika  susasana pembelajaran  nyaman, menyenangkan, bervariatif  dan bermakna (berpihak pada murid) terwujud?
  • ·Menanyakan perasaan murid terhadap suasana pembelajaran yang menyenangkan, nyaman dan berpihak pada murid
  • Menuliskan/menggambarkan suasana pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan bermakna (berpihak pada murid)

 J-abarkan rencana (Design)

·      Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

·      Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

  • Apa langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan, dan bermakna (berpihak pada murid)?
  • Siapa yang akan membantu mewujudkan tercapainya suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan
  • Bagaimana tolak ukur tercapainya suasana pembelajaran yang nyaman,  menyenangkan dan bermakna?  
  • Aset apa saja yang diperlukan dalam mewujudkan pembelajaran yang nyaman, meneyenangkan dan bermakna?
  • Guru Bersama dengan murid menyusun rencana pembelajaran yang bervariatif (tempat, metode/ model serta gaya belajar sesuai dengan kebutuhan)
  •  

 

  • Berkolaborasi dengan semua pihak guna terwujudnya pembelajaran yang nyaman, aman dan bermakna (berpihak pada murid)

 

  • Menyususn indikator pencapaian  pembelajaran dan mengevaluasinya (sebagai upaya refleksi dan perbaikan pembelajaran), antara lain: kenyamanan murid dalam mengikuti pembelajaran
  • Mendata aset yang akan dipergunakan dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan memasukkannya dalam RPP (antara lain asset fisik/ sarana:  gazebo, taman, halaman belakang sekolah, Proyektor LCD, dan Lab TIK), dan aset manusia : rekan sejawat guru lainnya, tokoh agama serta wali murid)

 A-tur eksekusi (Deliver)

·      Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

·      Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

  • Siapakah yang terlibat dalam mewujudkan suasana pembelajaran  yang nyaman, menyenangkan dan bermakna (berpihak pada murid)

 

  • Kepala sekolah bertindak sebagai pemangku jebijakan, yang memberikan dorongan dan motivasi, rekan guru bertindak sebagai orang yang mengkomunikasikan kepada kepala sekolah, murid, dan orang tua/wali tentang pentingnya kondisi pembelajaran yang nyaman menyenangkan dan bermakna (berpihak pada murid),

 

Finding atau Pembelajaran

Berpikir berbasis aset atau aset based thinking memberikan pembelajaran baik guru maupun murid sebuah perubahan dari pembelajaran yang monoton menjadi pembelajaran yang menenangkan, nyaman dan bermakna. Bahwasannya untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid, maka sarana yang ada dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Guru sejatinya menuntun, memfasilitasi murid agar murid mendapatkan hal yang bermanfaat untuk bekal dalam hidup bermasyarakat melalui pemanfaatan aset yang ada di sekolah.

 

Future atau Penerapan ke depan

Penerapannya kedepan antara lain, melaksanakan pembelajaran secara bervariatif agar murid  tidak jenuh dan merasa nyaman serta membawa makna dalam kehidupannya antara lain:

  • Memanfaatkan sarana (ruang kelas yang bersih, nyaman dan rapi, gazebo, taman, halaman, dan masjid) sebagai tempat belajar yang disusuaikan dengan kebutuhan sehingga murid menjadi lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran
  • Memanfaatkan labkom maupun LCD di kelas sebagai media pembelajaran Matematika
  • Merancang pembelajaran yang berdiferensiasi dengan memanfaatkan aset yang dimiliki oleh murid yakni android  murid (missal membuat video pembelajaran, game, tiktok dsb)
  • Memanfaatkan fasilitas lapangan, Lab TIK dan masjid sebagai tempat penguatan karakter murid dan guru (untuk sholat, praktek ibadah, ujian praktek dan peringatan hari besar Islam)
  • Bekerjasama dengan seluruh potensi yang ada guna mewujudkan pembelajaran yang aman, nyaman dan bermakna yang berpihak pada murid.

 


 

3.1.a.10. Aksi Nyata Praktik menjadi Pengambil Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Oleh : WIWIED SUPARYADI, S.Pd

CGP Angkatan 4 Kab Nganjuk



A.    Peristiwa

1.         Latar Belakang.

Kadang dalam mengambil keputusan itu kita sering dihadapkan pada dua pilihan yang kedua- duanya adalah benar. Tapi keduanya saling bertentangan.Dan kadang pula kita dihadapkan pada situasi bujukan moral. Hal ini tentu akan menimbulkan keraguan dan kebimbangan bahkan setelah kita  mengambil keputusanpun kita akan dibayangi oleh rasa keraguan apakah benar atau salah, apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah terkait bagaimana mengambil keputusan yang tepat terhadap sebuah dilemma yang dihadapi. Semenjak pandemic Covid 19 kegiatan pembelajaran sering kali mengalami perubahan dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), atau disebut Belajar Dari Rumah (BDR), Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) dengan model shif, Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) dengan durasi waktu 3 jam disekolah, kemudian berganti menjadi Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) dengan durasi waktu 5 jam di sekolah. Hal ini mengakibatkan jadwal pelajaran yang disusun oleh wakil kepala sekolah urusan kurikulum pun berubah menyesuaikan kondisi. Selain itu juga mengakibatkan tingkat keaktifan siswa dalam pengumpulan tugas sangat rendah. Bahkan pada saat Pertemuan Tatap Muka Terbatas pun banyak siswa yang tidak masuk sekolah dan banyak siswa yang tidak mengumpulkan tugas. Ada juga yang masuk sekolah enggan mengikuti KBM di dalam kelas, kalaupun ikut di dalam kelas kondisinya seperti tidak fokus, malas-malasan. Disamping permasalahan siswa, kita juga dihadapkan pada bapak ibu guru yang berhalangan hadir dan tanpa memberikan tugas, sebagai akibatnya kelas menjadi ramai, bahkan sering kali siswa keluar kelas menuju ke kantin untuk makan dan minum, bergerombol di taman sekolah sekedar berkumpul sambil main Handphone ataupun bernyanyi-nyanyi sehingga sangat mengganggu kelas lain yang sedang KMB. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi/dorongan, di belakang memberi dukungan merupakan Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara Sebagai pendidik, kita harus menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Kita hanya perlu menuntun segala yang ada pada anak, mengarahkan dan memberi dorongan supaya anak dapat berproses dan berkembang.

Sebagai guru ideal yang menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong pembelajaran yang berpihak pada murid, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain dan mendorong kolaborasi antara guru.dan mewujudkan kepemimpinan murid.Dalam menjalankan itu semua ada beberapa nilai yang harus ada dalam diri guru penggerak yaitu mandiri. reflektif, kolaborasi, inovatif dan,berpihak kepada murid.

    Adapun Pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan memenuhi kebutuhan belajar murid menggunakan  pembelajaran berdiferensiasi, juga memasukkan pembelajaran sosial dan emosional .Disamping itu juga melaksanakan praktek coaching dengan murid maupun komponen sekolah yang lainnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menggali dan melejitkan  potensi yang dimiliki

 Tentu saja dalam menerapkan itu semua banyak mengalami permasalahan yang harus diselesaikan dengan cepat. Untuk itu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan, diharapkan keputusan yang diambil bisa menjadi rujukan atau teladan disekolah dan mewujudkan sekolah yang berpihak kepada murid.

2.  Alasan mengapa melakukan aksi 

Sebagai pemimpin pembelajaran seyogyanya mampu membuat keputusan yang tepat untuk mengembalikan semangat, motivasi, sikap dan prestasi peserta didik. Saya mulai mencoba mengambil keputusan berdasarkan materi yang sudah saya dapatkan dan saya pelajari pada  modul 3.1. Setelah saya amati bahwa paradigma yang terjadi dalam kasus tersebut adalah paradikma jangka pendek lawan jangka panjang , prinsip yang saya gunakan adalah Berfikir berbasis rasa peduli, dengan menggunakan 9 langkah sebagai bahan pengujian dan pengambilan keputusan sehingga diharapkan mendapatkan keputusan yang tepat yaitu dengan cara melakukan pembelajaran yang kreatif, inovatif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar atau belajar diluar kelas untuk meningkatkan semangat ,motivasi dan meningkatkan kembali prestasi belajar, kemudian menerapkan budaya positif sekolah dengan membiasakan budaya antri dan membuang sampah pada tempatnya sebagai upaya menanamkan nilai-nilai positif.

Selain itu ada suatu kasua yang menjadi saya sadar pentingnya mengambil keputusn yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran yaitu :

Pada tahun pelajaran 2020/2021 pembelajaran di sekolah menggunakan sistem tatap muka 50%. Para murid masuk bergantian satu hari masuk satu hari libur sesuai no absennya. Murid pada sesi satu absen 1-16 masuk hari Sei, Rabu, Jumat dan murid pada sesi dua absen 17-32 masuk hari Selasa, Kamis, Sabtu. Meskipun hanya tatap muka 50% namun ada seorang murid kelas 9.D yang sering membolos. Sudah dilakukan pembinaan dari guru BK ternyata tidak ada perubahan. Kemudian diberikan panggilan orang tua namun orang tua tidak pernah datang. Akhirnya saya sebagai wali kelas dan guru BK melakukan home visit ke rumah murid tersebut. Kebetulan sekali murid tersebut dan orang tuanya ada di rumah. Kita lakukan komunikasi dengan murid dan orang tuanya tentang permasalahan ini. Dari hasil komunikasi diperoleh informasi bahwa murid ini merupakan anak tunggal dari keluarga yang tidak mampu. Ibu anak ini sakit struk sehingga tidak bisa beraktivitas sedangkan ayahnya bekerja serabutan sambil merawat istrinya. Keadaan keluarga seperti ini membuat si anak berfikir untuk mencari kerja dan mulai tidak masuk sekolah. Dia lebih sering merawat ibunya di rumah daripada sekolah karena ayahnya bekerja. Dia juga bertekad tidak ingin melanjutkan sekolah, dia lebih tertarik untuk bekerja. Sebagai rasa empati saya memberikan nasihat, motivasi, dan himbauan kepadanya agar menyelesaikan sekolahnya dulu mengingat ujian sekolah tinggal beberapa minggu. Situasi ini membuat dilema bagi saya sebagai wali kelas, apakah saya harus berusaha membantu anak ini agar lulus sekolah atau membiarkan anak ini tidak lulus mengingat ada beberapa kriteria kelulusan yang tidak dipenuhi seperti ada beberapa nilai yang belum dia penuhi dan batas maksimal absensi melebihi kriteria kelulusan.


 B.     PERASAAN

Saya merasa senang, tertantang, termotivasi dan bersyukur untuk melakukan suatu keputusan sebagai bentuk solusi atas permasalahan yang terjadi dengan menggunakan materi serta langkah-langkah yang sudah dipelajari pada modul 3.1, sehingga keputusan yang saya ambil tepat dan dapat memenuhi segala kebutuhan peserta didik.

1.      Ketika menjumpai permasalahan yang terjadi disekolah baik mengenai pembelajaran ,penerapan budaya positif, penerapan coaching dan lain sebagainya, saya merasa kegamangan bagaimana cara tepat dan sesuai guna mengambil keputusan dari masalah masalah tersebut.

2.      Terkadang Analisa yang saya lakukan maslah yang terjadi adalah bujukan moral, ternyata setelah mempelajari modul ini,  perasaan saya menjadilebih mengerti dan sedikit banyak mampu membedakan dan mengambil langkah untuk memutuskan bahwa kasus tersebut adalah dilema etika, dan sebagai pemimpin pembelajaran harus membuat keputusan yang tepat untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

3.      Semangat saya menjadi melecut dan tertantang untuk mengambil sikap dan membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan ingin bsecara nyata dapat menerapkan dengan secara nyata 4 paradigma 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan dengan tepat

4.      Saya merasa lega karena sudah menerapkan langkah langkah dalam pengambilan keputusan. Dan saya merasa bahwa yang saya lakukan sudah tepat karena berdampak positif terhadap lingkungan sekolah.

5.      Saya juga merasa senang karena beberapa teman juga tertarik dalam pengambilan keputusan saya. Tentu saja ini momen yang baik bagi saya untuk menularkan ilmu yang saya dapat kepada rekan guru, komunitas praktisi bahkan komponen sekolah lainnya.

6.      Yang saya rasakan semuanya berdampak positif baik bagi diri saya maupun murid yang terlibat dalam pengambilan keputusan saya sebagai pemimpin pembelajaran. Semoga perasaan yang positif ini menjadi energi untuk melangkah bagi perbaikan dan untuk mencapai visi dan misi serta tujuan sekolah yang berpihak kepada murid.

C.    PEMBELAJARAN

Ini adalah ajang Kolaborasi  untuk bersama-sama membangun kembali motivasi, semangat ,sikap, budaya positif dan prestasi belajar peserta didik, selain itu pembelajaran yang saya dapatkan adalah dapat meningkatkan ketrampilan saya dalam mengambil keputusan dengan menggunakan  4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan berbagai ragam masalah yang ada.

 Kadang kita terjebak kasus dengan mengkategorikan bujukan moral, ternyata setelah mempelajari modul ini adalah termasuk kasus dilema etika.Kadang dalam menghadapi kasus dilema etika kita harus membelokkan peraturan demi kepentingan lain yang lebih baik.Ketika ada anak yang membolos kita tidak harus langsung memberikan hukuman, akan tetapi ditanya alasanya dan mengikuti tahapan membuat keputusan, Demikian juga ketika seorang guru terjebak dengan berbagai macam tugas yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Dimana mengajar adalah tugas pokok guru, menjalankan tugas dari sekolah adalah juga suatu amanat. Sehingga guru tersebut perlu membuat keputusan yang tepat agar bisa menjalankan semua tugas dengan tepat.Semua berpijak kepada nilai nilai kebajikan dan mengikuti langkah yang harus dilalui dalam pengambilan keputusan, sehingga pembelajaran yang berpihak kepada anak dapat diwujudkan

Pembelajaran yang didapat dari aksi membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut :

1.      Tetap berprinsip bahwa setiap orang mempunyai potensi yang mempunyai potensi dapat memecahkan masalah yang dihadapi dengan baik

2.      Keputusan dibuat harus tetap menempatkan harga diri setinggi tingginya pada orang yang terlibat masalah.

3.      Dalam membuat keputusan harus dalam kondisi emosi yang baik dan memperhatikan aspek aspek sosial,sehingga keputusan dapat diambil dengan tepat dan berperikemanusiaan.

4.      Perlu adanya pemantauan setelah membuat keputusan, jika keputusan yang dibuat berdampak baik maka keputusan bisa diteruskan, akan tetapi jika tidak bisa berjalan dengan baik maka perlu adanya perbaikan dalam keputusan tersebut.

5.      Perlu adanya kerjasama dengan komponen terkait seperti guru,orang tua, pengajar yang lain dan komponen sekolah yang lainnya dalam pembuatan keputusan yang tepat agar terwujud iklim pembelajaran yang berpihak kepada anak.

 

D.    PENERAPAN KEDEPAN

Saya berusaha akan menerapkan secara rutin dan konsisten serta melakukan kolaborasi bersama seluruh warga sekolah guna memfasilitasi kebutuhan belajar peserta didik yang dapat meningkatkan semangat,motivasi,sikap, budaya positif dan prestasi secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam proses pembelajaran.

Dapat disimpulkan bahwa dalam hasil aksi nyata pengambilan  keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, jika  menyelesaikan masalah dilema etika dengan mempraktekkan proses pengambilan keputusan. Paradigma .prinsip. Dan pengujian keputusan, akan menghasilkan keputusan yang menjunjung nilai universal, mementingkan kepentingan orang banyak dan demi kebaikan bersama untuk mewujudkan visi dan misi sekolah, dan yang terpenting adalah mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

Dalam proses pembelajaran ini kita mengetahui bahwa tugas tersulit seorang pemimpin pembelajaran yaitu mengambil suatu  keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid.  Pada tahap inilah saya dapat mengetahui kendala, hambatan dan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi sehingga nanti didapat formulasi yang tepat untuk mengatasi  masalah ini. Dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pengambilan keputusan memudahkan saya dalam mengambil keputusan yang tepat. Jangan sampai keputusan yang kita ambil merugikan peserta didik.

Rabu, 08 Juni 2022

 

3.3.a.6. Refleksi Terbimbing - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

04.51.PPPPTKPKNIPS.IIS SUKAESIH, S.Pd PPGP 4

 

3.3.a.6. Refleksi Terbimbing - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

04.51.PPPPTKPKNIPS.IIS SUKAESIH, S.Pd PPGP 4

 

Durasi:  2 JP

 

Tugas Modul 3.3.a.6 Refleksi Terbimbing –Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid

Wednesday, 9 June 2022, 5:30 AM

By WIWIED SUPARYADI, S.Pd

Nama CGP : WIWIED SUPARYADI, S.Pd


Moda: Konsultasi Daring secara asinkron

Tujuan Pembelajaran Khusus:  

CGP melakukan refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah mereka lewati, dan apa yang harus mereka pertimbangkan kemudian dalam menyusun program/kegiatan yang berdampak  pada murid

Pertanyaan Pemantik :

1.      Apa hal-hal baru yang Anda temukan  dalam perjalanan pembelajaran Anda  di modul 3.3 ini?

  1. Tantangan apa yang saat ini masih saya hadapi untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?
  2. Sumber-sumber dukungan apa saja yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid?

Selamat bertemu kembali Bapak/Ibu CGP. Saat ini Bapak/Ibu telah memasuki tahapan pembelajaran yang ke-5, yaitu Refleksi terbimbing. Dalam tahapan ini, Bapak Ibu akan diberikan kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran Bapak/Ibu sejauh  ini.

Sebagai tagihan, Bapak/Ibu akan diminta untuk membuat catatan refleksi pembelajaran.  Untuk membantu menulis refleksi tersebut, Bapak/Ibu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1.      Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

2.      Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

3.      Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

4.      Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

5.      Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Top of Form

Tugas Modul 3.3.a.6 Refleksi Terbimbing –Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid

1.      Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Hal yang menarik bagi saya mengenai pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah

Setelah saya memahami pendekatan aset dalam memetakan sumberdaya yang dimiliki ternyata itu tidaklah cukup. Sebab akhir sebuah kegiatan belum tentu sesuai, sesuai dengan rencana yang diinginkan. Ada banyak hal dan kemungkinan yang bisa terjadi baik yang bisa diprediksi sejak awal maupun yang tidak diperhitungkan, bahkan kejadian luar biasa (poste majeur). Oleh karena itu pentinglah kiranya bahwa dalam menyusun suatu program kegiatan dianalisis terlebih dahulu dampak dan resiko yang mungkin terjadi hingga kemungkinan terburuk sekalipun. Program yang berdampak langsung pada siswa tentu saja dalam hal merancang pembelajaran di kelas. Dalam pelaksanaannya kita hendaknya memepertimbangkan hasil evaluasi dari kegiatan sebelumnya dengan prinsif 4F yaitu:

·         Fact (Fakta): Catatan objektif tentang apa yang telah terjadi

·         Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi yang terjadi

·         Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut

·         Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa yang akan dating

Selain itu setelah mempelajari modul ini saya mendapat pengetahuan dan juga pemahaman baru tentang bagaimana menyusun sebuah program yang berdampak pada murid, yang ternyata tidak mudah. Ketika kita memiliki sebuah program yang akan dikembangkan di sekolah haruslah bermula dari pemetaan aset atau sumber daya di sekolah, barulah sebuah program akan lebih terarah dan memiliki tingkat kesuksesan dan keberhasilan yang tinggi. Saat kita membuat program haruslah ada strategi dalam memilih bentuk program yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan aspek-aspek dalam pengembangan program dan agar tepat sasaran dan demi keefektifan maka saya menentukan prioritas masalah dan kebutuhan di sekolah sesuai dengan lingkungan yang diinginkan

 

2.    Apa yang mngejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Banyak hal-hal yang mengejutkan yang saya temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid, diantaranya:

Hal yang mengejutkan adalah jika selama ini kita memperlakukan murid sebagai obyek dan subyek yang tdika mampu bertindak sebagai pemimpin Ketika memberikan kesepatan sebagai pemimpin ternyata mereka mampu menjadi pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, dan untuk itu kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Tugas guru hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana siswa memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. Hal hal yang perlu di lakukan adalah :

a.       Dalam  pembuatan program sekolah harus memperhatikan suara(voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership)

b.       Bentuk-bentuk dan macam-macam  program sekolah yang berdampak pada murid

c.       Membuat perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid dan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid

d.       Pengelolaan Program dengan strategi MELR

 

3.    Apa yang berubah yang akan  Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Setelah mempelajari dan memahami materi mengenai pengelolaan program  yang berdampak pada murid, saya akan melakukan beberapa perubahan dalam membuat suatu program, yaitu:

Perubahan yang diterapkan dalam sebuah ekosistem khususnya sekolah tentukan akan memunculkan resiko. Kadang menimbulkan konflik benturan kepentingan dari berbagai pihak (Stake Holder). Sehingga  sekolah selalu meminimalisir kemungkinan yang akan timbul dari perubahan tersebut. Pengelolaan dan pengidentifikasian resiko sangat dibutuhkan untuk meredam  kerugian yang muncul dari penerapan suatu progam dan meminimalkan sedikit mungkin hal negative. Sehingga saya ingin mengetahui konsep Monitoring Evaluasi dan 12 prinsip dasarnya secara lebih jauh termasuk penerapannnya dalam program. Karena selama ini pemahaman saya hanya sebatas pada :

-          Monitoring adalah proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program.

-          Evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai. Biasanya kegiatan evaluasi melibatkan penilai luar yang independen.

-          Refleksi adalah  penilaian ataupun umpan balik setelah melakukan atau mengikuti dan diakhir proses kegiatan

Ketiga aktivitas ini menjadi sebuah siklus yang dapat dilakukan berulang-ulang. Dalam melakukan monitoring dan evaluasi, Kertsy Hobson menawaran dua belas prinsip dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman, yaitu:

1.    Mengapa perlu melakukan monitoring dan evaluasi?

2.    Menyetujui prinsip-prinsip yang menjadi pedoman.

3.    Menentukan program atau proyek yang perlu dimonitor.

4.    Menentukan siapa saja yang terlibat dalam setiap tahapan monitoring dan evaluasi

5.    Menentukan topik kunci dan pertanyaan untuk melakukan investigasi

6.    Mengklarifikasi sasaran, tujuan, aktivitas, dan langkah-langkah untuk berubah.

7.    Mengidentifikasi informasi yang perlu diketahui.

8.    Memutuskan bagaimana informasi diperoleh.

9.    Menilai kontribusi/pengaruh yang diberikan.

10.Menganalisis dan menggunakan informasi.

11.Menjelaskan data.

12.Etika dan proteksi data.

Sehingga perlu memperhatikan hal hal sebagai berikut :

1.       Menganalisis asset apa yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan program.

2.       Merencanakan program yang berdampak pada murid dengan tahapan BAGJA.

3.       Menerapkan manajemen Risiko dan mengelola risiko menjadi sebuah potensi yang berorientasi pada pembelajaran murid

4.       Melakukan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan program

5.       Merelfleksi setiap kegiatan yang telah dilaksanakan

 

4.    Apa yang menantang bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini ?

Saya menyusun program sederhana yang melibatkan murid, kepala sekolah, wakasek, rekan rekan guru, dan warga sekolah serta  orang tua dan dalam penyusunan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid saya menggunakan pendekatan BAGJA dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Saya optimis bahwa dengan pendekatan BAGJA akan memberikan solusi alternatif atas permasalahan siswa di sekolah. Kita dapat mengidentifikasi dan menginventarisasi kekuatan yang ada untuk dimaksimalkan dengan cara menyusun program yang diawali dari perumusan tujuan berupa pertanyaan sekolah yang diimpikan hingga memetakan potensi yang mungkin bisa dioptimalkan dengan bercermin pada evaluasi hasil kegiatan sebelumnya sebagai gambaran penyusunan program terutama dalam mengantisipasi segala kemungkinan resiko yang akan terjadi, sehingga kita siap apabila rencana yang dijabarkan belum menemui hasil yang diharapkan dengan menyiapkan rencana alternatif untuk melakukan eksekusi kegiatan.

Hal yang menantang bagi saya untuk memahami tentang materi pada modul ini adalah :

a.         Beberapa penyataan di dalam modul materi sangat dalam dan bermakna dan baik untuk di lakukan namun belum sepenuhnya dipraktekkan dalam keyataan yaitu murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Pada keseharian kita seringkali menemukan beberapa murid yang masih belum menemukan atau memiliki potensi yang lebih bahkan bisa dikatak seperti berlian yang belum terasah. Dan kecenderungan kita selaku guru memerimtahkan dengan Instruksi lisan dan cenderung melupakan bahwa siswa perlu diberikan contoh.

Hal ini yang saya kira untuk siswa di jenjang SMP perlu lebih diberikan karena selama ini kita selaku guru lupa akan semboyan Tri Loka Ki Hajar Dewantara

b.         Kandungan Materi ini pun juga menantang bagi saya yaitu kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.

c.         Kepemimpinan Murid adalah murid dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri.Ini juga merupakan hal yang menantang bagi saya untuk mewujudkan

 

5.    Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid. 

Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan program yang berdampak pada murid, guru dan sekolah tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari komunitas

Adapun sumber dukungan yang  membantu saya dalam menyusun program yang berdampak pada Murid adalah :

a.       Sumber Daya bukan Manusia yang meliputi program sekolah, kurikulum

b.       Sumber Daya Manusia (SDM) yang meliputi kepala sekolah, guru, staf, tenaga pendidikan lainnya, siswa, orang tua siswa (Komite), dan masyarakat yang memiliki keperdulian kepada sekolah

c.       Sumber Daya Fisik (SDF) yang meliputi bangunan, ruangan, peralatan, alat peraga pendidikan, waktu belajar, dan penampilan fisik sekolah

d.       Sumber Daya Keuangan (SDK) yang meliputi keseluruhan dana pengelolaan sekolah baik yang diterima dari pemerintah berupa Dana BOS maupun mandiri dari masyarakat


  MODUL 3.3.a.10.1 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   Nama CGP                :   WIWIED SUPARYADI, S.Pd CGP...