KONEKSI ANTAR MATERI 3.1.a.9
WIWIED SUPARYADI, S.Pd – CGP ANGKATAN
4 KABUPATEN NGANJUK
Tugas 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi;
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
"Belajar dari hari kemarin. Hidup
untuk hari ini. Harapan untuk besok. "
Pengambilan keputusan merupakan cara yang akan memiliki pengaruh
besar dalam proses dan berjalannya sebuah organisasi/sekolah, maka dalam modul
ini CGP diminta untuk melaksanakan refleksi terhadap materi-materi pada modul
yang sudah dipelajari dalam bentuk koneksi antar materi.
Pada proses pengambilan keputusan, kita mengenal tiga prinsip yang
meliputi: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule- Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking).
Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan
tentunya berkaitan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Guru dalam
memberikan pelayanan dan pembelajaran juga harus memiliki rasa empati terhadap
murid agar murid memiliki rasa terbuka dan berminat terhadap pembelajaran yang
kita berikan, hal ini merupakan salah satu prinsip berpikir berbasis rasa
peduli (Care-Based Thinking). Dalam pengambilan suatu keputusan sangat
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai
bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan
bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk
nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap
keputusan yang kita ambil.
Sebelum saya mengerjakan tugas yang ada di
modul 3.1.a.9 ini,saya akan menuliskan kembali hasil rangkuman materi yang
berkaitan dengan Pengambilan Keputusan.Ada beberapa langkah yang harus
dilaksanakan oleh seorang pemimpin sebelum mengambil sebuah keputusan.Hal ini
penting agar keputusan yang diambil tepat dan efektif bagi semua orang.
Perbedaan Bujukan Moral dan Dilema Etika
Dalam pengambilan keputusan ada dua hal
yang terjadi yaitu bujukan moral dan dilema etika. Nah apakah perbedaan
keduanya itu?
Bujukan moral atau benar vs salah adalah
sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau
salah dalam mengambil sebuah keputusan.
Dilema etika atau benar vs benar adalah
sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya
benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.
Empat Paradigma dalam Pengambilan Keputusan
Dari pengalaman kita bekerja kita pada
institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat
yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema
etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta
dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi,
tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Secara umum ada pola, model, atau paradigma
yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah
ini.
1.
Individu lawan masyarakat
(individual vs community)
2.
Rasa keadilan lawan rasa
kasihan (justice vs mercy)
3.
Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty)
4.
Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term)
Tiga Prinsip dalam Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan sebuah keputusan ada tiga
prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam
menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia
saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut yaitu.
1.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking)
2.
Berpikir Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking)
3.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking)
Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda
harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat.
Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan
tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara
etis.
Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah
disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi
dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang
bertentangan.
1. 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai
yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2. 2. Menentukan siapa yang terlibat
dalam situasi ini.
3. 3. Kumpulkan fakta-fakta yang
relevan dengan situasi ini.
4. 4. Pengujian benar atau salah. Ada
uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji
panutan/idola.
5. 5. Pengujian Paradigma Benar lawan
Benar.
6. 6. Melakukan Prinsip Resolusi.
7. 7. Investigasi Opsi Trilema.
8. 8. Buat Keputusan.
9. 9. Lihat lagi Keputusan dan
Refleksikan.
1. Bagaimana pandangan
Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap
bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran
diambil?
Filosofi Pendidikan yang terkenal dengan
istilah Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal
dengan semboyan ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri
Handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun
motivasi/dorongan, di belakang memberi dukungan. Sebagai pendidik, kita harus
menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Kita hanya perlu
menuntun segala yang ada pada anak, mengarahkan dan memberi dorongan supaya
anak dapat berproses dan berkembang. seorang pendidik hanya dapat menuntun
tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak,
serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap
permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid
berkembang sesuai karakter, keunikan serta memaksimalkan segala potensi yang
dimilikinya. Dalam proses menuntun, anak akan diberi kebebasan, dalam hal ini
guru sebagai pamong memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan
arah serta membahanyakan dirinya serta anak menemukan kemerdekaannya dalam
belajar sehingga akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tepat dan
bertanggung jawab. Dalam hal tersebut, maka guru harus mampu mengambil
keputusan yang berpihak pada murid serta bijaksana. Berdasarkan hal tersebut
guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya menerapkan pengambilan
keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan
keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah-langkah dalam
pengambilan dan pengujian keputusan.
2. Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Etika terkait dengan karsa karena manusia
memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling
berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral.
Dari kutipan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu
unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan
dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari
atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari
pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur
dilema etika.. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di
sini adalah yang paling sering dikenali dan dapat kita digunakan sebagai
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah keputusan. ketiga prinsip
ini seringkali membantu dalam menghadapi pilihan- pilihan yang penuh tantangan,
yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut
adalah:
1.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2.
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri
seorang pendidik tentunya adalah nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab,
disiplin, toleransi, gotong-royong dan nilai kebaikan lainnya. Nilai-nilai
tersebut adalah nilai-nilai yang paling kita hargai dalam hidup dan sangat
berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan membimbing dalam kita
mengambil sebuah keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai
yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan
berpihak pada murid. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat diperlukan
nilai-nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga
keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang
paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada
anak didik kita. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan
kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi
sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.
3. Bagaimana kegiatan
terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan
kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator
dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan
keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah
efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan
keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang
telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Coaching merupakan suatu ketrampilan yang
sangat penting dalam menggali suatu permasalahan yang sebenarnya terjadi, baik
masalah yang terjadi dalam diri kita maupun yang dimiliki orang lain. Pada
konteks pembelajaran yang berpihak pada murid, coaching menjadi salah satu
proses “menuntun” kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di
sekolah.
Coaching menjadi proses yang sangat penting
dilakukan di sekolah, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali
potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga
murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan
campur tangan orang lain, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dengan
resiko yang paling kecil.
Sebagai contoh pembimbingan yang telah
dilakukan oleh pendamping atau fasilisator telah membantu saya berlatih
mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah
berpihak kepada murid, apakah sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan
universal, apakah keputusan yang diambil bermanfaat untuk banyak orang dan
apakah keputusan yang diambil tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
Seorang pendidik harus mampu mengetahui dan
memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari muridnya .
Seorang siswa harus mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajarnya .
Pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal
ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan
memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang
terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk
dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan
membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk
memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Coaching dapat
membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh sehingga
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dengan demikian
akan berpengaruh bagi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Sesi coaching membantu guru untuk
memaksimalkan potensi yang dimiliki dan memecahkan permasalahan saat menjadi
pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema
etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan tehnik
coaching, sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada
murid.
4. Bagaimana kemampuan
guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan?
Dalam melaksanakan proses Pendidikan,
pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar
muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki
dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses
pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial
emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self
management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan
sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan
dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai
pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam
pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan
kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang
kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh
kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan
selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik .
5. Bagaimana pembahasan
studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik.
Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang
pendidik harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan
tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan nilai- nilai yang
dimiliki seorang pendidik tersebut, baik nilai inovatif, kolaboratif, mandiri
dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali
potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang
dihadapi sehingga dengan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut, yang
merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan cenderung pada prinsip
“melakukan” demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/
nilai- nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan
lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah
keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah
pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang terjadi.
6. Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita
sering dihadapkan pada situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu
keputusan, namun terkadang dalam pengambilan keputusan terutama pada situasi
dilema kita masih kesulitan misalnya lingkungan yang kurang mendukung,
bertentangan dengan peraturan, pimpinan tidak memberikan kepercayaan karena
merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil
sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar atau
sama-sama benar. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman,
hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali terlebih dahulu kasus yang
terjadi apakah kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus
tersebut merupakan dilema etika, sebelum mengambil sebuah keputusan kita harus
mampu menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip
dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang
kita ambil mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
untuk muridnya. Intinya pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus
pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan . Dapat dipastikan bahwa jika
pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus
yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut
diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang
terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman.
7. Selanjutnya, apakah
kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah
ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Ketika kita dihadapkan pada sebuah situasi
dilema etika tentu adakalanya kita menghadapi kesulitan-kesulitan dalam
menjalankan pengambilan keputusan tersebut. Kesulitan muncul bisa disebabkan
karena adanya berbagai faktor misalnya :
1.
masalah perubahan paradigma dan
budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun,
2.
masih minimnya pengetahuan dan
pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang saya
dihadapi,
3.
kekhawatiran apakah keputusan
yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan
orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya,
4.
adanya perbedaan mindset dan
sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang
dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.
8. Dan pada akhirnya,
apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran
yang memerdekakan murid-murid kita?
Sebagai seorang pendidik, saya merasa
terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 terkait pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran karena sebelumnya kita sering menemukan dilema
namun kita belum bisa menyelesaikan permasalahan dengan mengambil sebuah
keputusan dengan tepat, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul
3.1 ini maka ketika kita mengambil keputusan harus memperhatikan beberapa hal
penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan maka keputusan yang kita ambil akan berdampak baik kepada murid
karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan
dan kebahagian pada murid, sehingga dengan keselamatan dan kebahagiaan yang
didapatkan oleh murid maka kita telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar
Pendidik sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat
siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk memerdekan siswa
dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka. Karena pengambilan
keputusan yang tepat akan mempengaruhi pengajaran seorang guru untuk mewujudkan
Pendidikan yang memerdekakan murid.
9. Bagaimana seorang
pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid.
Jika keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid maka
murid akan dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dan kita sebagai pemimpin
pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki
sehingga keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari murid di
masa depannya nanti. Pendidik yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan
memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu
menciptakan well being murid untuk masa depan yang lebih baik.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda
tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari
pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu
kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar,
Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan
menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah
keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun
masyarakat.
Dalam melaksanakan proses Pendidikan,
seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya
serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam
mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil
sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita
sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi
hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.
Keterampilan coaching ini dapat membantu
murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri tidak sebatas pada murid,
keterampilan cocaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas
terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu
diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self
management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan
sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan
keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh(mindfullness), sadar
dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.
Demikian uraian saya mengenai tugas modul 3.1.a.9 Koneksi antar materi, semoga bisa bermanfaat.
Wa’alaikumus Salam Warahmatullahi Wabarakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar