Minggu, 06 Februari 2022

 

MENUMBUHKAN BUDAYA POSITIF MELALUI PEMBIASAAN

BELAJAR TANPA BATAS WAKTU DAN RUANG, 3 S (SENYUM, SALAM, SAPA) DAN DISIPLIN BERSIKAP MELALUI KENYAKINAN KELAS DAN KESEPAKATAN BELAJAR”

 

Oleh: WIWIED SUPARYADI, S.Pd-CGP-Angk4-Kabupaten Nganjuk

 

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan di sekolah sekarang ini dengan adanya pandemi covid 19 pembelajaran jarak jauh harus dilaksanakan. Perubahan pembelajaran yang tadinya tatap muka di sekolah beralih ke tatap maya. Pembelajaran tatap maya, biasa dikenal dengan pembelajaran daring menjadikan interaksi secara nyata antara guru dan siswa tidak terbangun. Interaksi guru dan murid inilah yang seharusnya selalu dibangun untuk dapat menanamkan pendidikan karakter yang selanjutnya dapat menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan dan dapat diwariskan. Pendidikan karakter di sekolah bukan hanya mendorong murid untuk sukses
secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk
menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang dapat menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.Budaya positif merupakan salah satu cara dalam pembentukan karakter baik.

Pandemi telah menyebabkan terjadinya krisis pendidikan, Salah satu nyata adalah menurunnya keaktifan murid dalam mengikuti pembelajaran. Banyak guru yang mengeluhkan muridnya tidak mengikuti pembelajaran dengan baik. Tugas-tugas yang diberikan melalui pembelajaran jarak jauh banyak yang tidak dikerjakan, selain itu muncul kekuatiran orang tua ketika anak anak mereka mulai kecanduan dengan HP seharusnya dipakai untuk pembelajaran namun justru disalah gunakan.

Peran guru dalam penumbuhan budaya positif pada saat ini mengingat masih pandemi adalah sangat vital. Guru dituntut bagaimana cara untuk menumbuhkan budaya positif bagi murid tanpa adanya interaksi sekolah secara menyeluruh dengan menggunakan Blended Learning yaitu gabungan antara Mode Daring secara tatap maya dan Luring secara Pertemuan Tatap Muka Terbatas. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam interaksi antara guru dan murid agar terbentuk disiplin positif. Kerja sama sekolah (guru) dengan orang tua untuk memberikan semangat, motivasi bagi siswa harus tetap terjalin

Setelah 2 tahun sejak COVID 19 dinyataka sebagai pandemic global, pada pendidik perlu mempersiapkan solah dan siswa untuk menghadapi bebagai tantangan di masa depan maka untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita untuk itu perlu dibangun kolaborasi yang harmonis antara Guru, Siswa, Orang Tua dan Warga Sekolah sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal. Pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam menumbuhkan budaya positif di sekolah.

 

B.  TUJUAN

1.      Menumbuhkan budaya positif di rumah sebagai tempat belajar (karakter mandiri, peduli, disiplin, tanggung jawab, religius)

2.      Meningkatan motivasi belajar siswa yaitu Lahirnya kesadaran murid pentingnya membantu orang tua secara belajar dengan giat belajar tanpa terbatas WAKTU DAN RUANG

3.      Menumbuhkan budaya positif pada murid yaitu Kegiatan interaksi dalam komunikasi positif antara guru, siswa dan orang tua dapat berjalan dengan baik

4.      Menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga muncul motifasi dari dirinya sendiri

5.      Menumbuhkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dengan budaya 3 S (SENYUM, SALAM dan SAPA)

 

 

 

C. LINAMASA TINDAKAN YANG DILAKUKAN

1.      Mengajukan rencana kepada Kepala sekolah untuk berkolaborasi dengan orang tua

2.      Menyampaikan rencana kolaborasi dengan orang tua melalui Group Wa sebagai sarana komunikasi

3.      Guru menyampaikan tata cara membuat kesepakatan yang baik dengan orang
tua

4.      Orang tua membuat kesepakatan dengan anak model dan waktu belajar

5.      Hasil kesepakatan berupa foto dikirimkan kepada guru melalu jarpri
atau group paguyuban

6.      Untuk memantau kesepakatan berjalan dengan baik guru menyebarkan angket
melalui Goggle Form yang akan diisi
orang tua secara berkala

7.      Guru melakukan refleksi dan tindak
lanjut keberhasilan program

 

 

D. DUKUNGAN YANG DIPERLUKAN

1.      Kepala Sekolah

2.      Rekan sejawat

3.      Orang Tua

4.      Siswa/Murid

5.      Warga sekolah

 

E.  TOLOK UKUR KEBERHASILAN

1.      Kesepakatan Hasil angket yang disebarkan kepada oang tua diisi dengan
baik dan sesuai tujuan

2.      Siswa semangat dalam KBM dan tidak terlambat dalam mengumpulkan tugas

3.      Terjalinnya kolaborasi Orang tua dan siswa dalam mengirimkan dan melaksanakan kegiatan siswa di rumah.

4.      Terwujudnya siswa yang memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan pembiasaan budaya positif berupa budaya positif yang dilakukan penuh kesadaran dan menjadi rutinitas bagi siswa selama di rumah dan di sekolah (PROFIL PEALAJAR PANCASILA)

5.      Terwujudnya respon yang baik dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan positif baik dari siswa maupun orang tua.

6.      Terwujudnya refleksi bersama guru, siswa dan orang tua siswa secara berkala jika terjadi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran

7.      Terwujudnya nilai-nilai profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dengan budaya 3 S (SENYUM, SALAM dan SAPA)

 F.           DOKUMENTASI KEGIATAN

  Kuisioner Bealajar di rumah

















BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

BUDAYA 3 S (SENYUM, SALAM DAN SAPA)         

                

KEBERSIHAN  LINGKUNGAN SEKOLAH 








 

 




  MODUL 3.3.a.10.1 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   Nama CGP                :   WIWIED SUPARYADI, S.Pd CGP...