“MENUMBUHKAN
BUDAYA POSITIF MELALUI PEMBIASAAN
BELAJAR TANPA BATAS WAKTU DAN
RUANG, 3 S (SENYUM, SALAM, SAPA) DAN DISIPLIN BERSIKAP MELALUI KENYAKINAN KELAS
DAN KESEPAKATAN BELAJAR”
Oleh:
WIWIED SUPARYADI, S.Pd-CGP-Angk4-Kabupaten Nganjuk
A. LATAR
BELAKANG
Pendidikan di sekolah
sekarang ini dengan adanya pandemi covid 19
pembelajaran
jarak jauh harus dilaksanakan. Perubahan pembelajaran yang tadinya tatap muka di sekolah beralih ke tatap maya. Pembelajaran tatap
maya, biasa dikenal dengan pembelajaran
daring menjadikan interaksi secara nyata antara guru dan siswa tidak terbangun. Interaksi guru dan murid inilah yang seharusnya
selalu dibangun untuk dapat menanamkan pendidikan
karakter yang selanjutnya dapat menumbuhkan
nilai-nilai
kemanusiaan yang dapat diteruskan dan dapat diwariskan.
Pendidikan
karakter di sekolah bukan hanya mendorong murid untuk sukses
secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah
terlibat di dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang
dapat menyiapkan murid menjadi manusia dan
anggota
masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.Budaya positif merupakan salah satu cara
dalam pembentukan karakter baik.
Pandemi telah
menyebabkan terjadinya krisis pendidikan,
Salah satu nyata adalah menurunnya keaktifan
murid dalam mengikuti pembelajaran. Banyak guru yang mengeluhkan muridnya tidak mengikuti
pembelajaran
dengan baik. Tugas-tugas yang diberikan melalui
pembelajaran jarak jauh banyak yang tidak
dikerjakan, selain itu muncul kekuatiran
orang tua ketika anak anak mereka mulai kecanduan dengan HP seharusnya dipakai untuk pembelajaran
namun
justru disalah gunakan.
Peran guru dalam
penumbuhan budaya positif pada saat ini mengingat masih
pandemi
adalah sangat vital. Guru dituntut bagaimana cara untuk menumbuhkan budaya positif bagi murid tanpa adanya interaksi sekolah
secara menyeluruh dengan menggunakan Blended Learning yaitu gabungan
antara Mode Daring secara tatap maya dan Luring secara Pertemuan Tatap Muka
Terbatas. Peran orang tua sangat dibutuhkan
dalam interaksi antara guru dan murid agar terbentuk disiplin positif. Kerja sama
sekolah (guru) dengan orang tua untuk memberikan semangat, motivasi bagi siswa harus tetap terjalin
Setelah 2 tahun sejak COVID 19
dinyataka sebagai pandemic global, pada pendidik perlu mempersiapkan solah dan siswa
untuk menghadapi bebagai tantangan di masa depan maka untuk membangun budaya
yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan
nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka,
mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang
adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita untuk
itu perlu dibangun kolaborasi yang harmonis antara Guru, Siswa, Orang Tua dan
Warga Sekolah sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal. Pentingnya
memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas,
yang akan menjadi landasan dalam menumbuhkan budaya positif di sekolah.
B. TUJUAN
1.
Menumbuhkan budaya positif di rumah sebagai tempat belajar (karakter mandiri, peduli, disiplin, tanggung jawab, religius)
2.
Meningkatan motivasi belajar siswa yaitu Lahirnya kesadaran murid pentingnya membantu orang tua secara belajar dengan giat belajar tanpa terbatas WAKTU DAN RUANG
3. Menumbuhkan budaya positif pada
murid yaitu Kegiatan interaksi dalam komunikasi positif antara
guru, siswa dan orang tua dapat
berjalan dengan baik
4. Menciptakan anak-anak yang memiliki
disiplin diri sehingga muncul motifasi dari dirinya sendiri
5. Menumbuhkan nilai-nilai profil
pelajar Pancasila pada diri peserta didik dengan budaya 3 S (SENYUM, SALAM dan
SAPA)
C. LINAMASA TINDAKAN
YANG DILAKUKAN
1. Mengajukan
rencana kepada Kepala sekolah untuk
berkolaborasi dengan orang tua
2. Menyampaikan
rencana kolaborasi dengan orang tua
melalui Group Wa sebagai sarana komunikasi
3. Guru
menyampaikan tata cara membuat kesepakatan yang baik
dengan orang
tua
4. Orang tua
membuat kesepakatan dengan anak model dan
waktu belajar
5. Hasil
kesepakatan berupa foto dikirimkan kepada guru
melalu jarpri
atau group paguyuban
6. Untuk memantau
kesepakatan berjalan dengan baik guru
menyebarkan angket
melalui Goggle Form yang akan diisi orang tua secara
berkala
7. Guru melakukan
refleksi dan tindak
lanjut keberhasilan program
D. DUKUNGAN YANG
DIPERLUKAN
1. Kepala Sekolah
2. Rekan sejawat
3. Orang Tua
4. Siswa/Murid
5. Warga
sekolah
E. TOLOK UKUR
KEBERHASILAN
1. Kesepakatan
Hasil
angket yang disebarkan kepada
oang
tua diisi dengan
baik dan sesuai tujuan
2. Siswa semangat dalam KBM dan tidak terlambat dalam mengumpulkan tugas
3. Terjalinnya kolaborasi Orang tua dan siswa dalam mengirimkan dan melaksanakan kegiatan siswa
di rumah.
4. Terwujudnya siswa yang
memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan pembiasaan budaya
positif berupa budaya positif yang dilakukan penuh kesadaran dan menjadi
rutinitas bagi siswa selama di rumah dan di sekolah (PROFIL PEALAJAR PANCASILA)
5. Terwujudnya respon yang baik dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan positif baik dari
siswa maupun orang tua.
6. Terwujudnya refleksi bersama guru,
siswa dan orang tua siswa secara berkala jika terjadi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran
7. Terwujudnya nilai-nilai
profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dengan budaya 3 S (SENYUM, SALAM
dan SAPA)
BUDAYA
POSITIF DI SEKOLAH
BUDAYA 3 S (SENYUM, SALAM DAN SAPA)
KEBERSIHAN LINGKUNGAN SEKOLAH